Bantul — Menjadi remaja hari ini berarti tumbuh di tengah dunia yang bergerak jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Informasi datang tanpa mengetuk pintu, pertemanan bisa terbentuk tanpa pernah bertatap muka, sementara tekanan untuk tampil, berprestasi, dan menentukan masa depan datang dari berbagai arah. Kondisi inilah yang mendorong Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN DIY membekali ratusan siswa Sekolah Rakyat (SR) Sonosewu, Bantul, Senin (10/8/2026). Bekal tersebut penting agar siswa tidak hanya mampu mengenali berbagai risiko di sekitarnya, tetapi juga memiliki keberanian dan kecakapan untuk menentukan pilihan yang baik bagi dirinya dan masa depannya.
Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN DIY, Rohina, M.Si., bersama Ketua Tim Kerja Pembangunan Keluarga, Dr. Mustikaningtyas, S.Psi., MPH, Psikolog, menyampaikan materi yang tidak berhenti pada larangan terhadap perilaku berisiko. Para siswa diajak memahami bahwa ketahanan remaja berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri, mengenali risiko, menolak perilaku yang merugikan, sekaligus menyiapkan diri menghadapi berbagai transisi menuju kehidupan dewasa. Materi program menempatkan lima fase penting dalam perjalanan tersebut, yakni melanjutkan pendidikan, hidup sehat, mencari pekerjaan, bermasyarakat, dan mempersiapkan kehidupan berkeluarga.
“Remaja hari ini bukan hanya sedang mempersiapkan masa depannya sendiri, tetapi juga menjadi penentu kualitas generasi Indonesia pada masa mendatang. Karena itu, mereka perlu dibekali kemampuan untuk memilih, bukan sekadar diberi tahu mana yang boleh dan tidak boleh,” pesan Rohina dalam penguatan ketahanan remaja.

Pesan tersebut sejalan dengan materi yang menempatkan remaja saat ini sebagai bagian penting dari persiapan menuju Generasi Emas 2045. Sementara Mustikaningtyas membawa pembahasan lebih dekat dengan keseharian siswa. Ruang digital, saat ini tidak lagi sekadar tempat mencari hiburan. Media sosial dapat membentuk cara berpikir dan perilaku melalui konten yang terus menerus dikonsumsi. Materi yang disampaikan mengingatkan siswa untuk mengenali tanda bahaya seperti ajakan merahasiakan hubungan, permintaan foto atau video pribadi, hingga pendekatan dari orang asing yang berlebihan. Siswa juga didorong untuk menjaga privasi akun, tidak membagikan informasi pribadi, serta berani mencari bantuan ketika menghadapi masalah di ruang digital.
“Ketahanan remaja tumbuh ketika mereka punya tempat untuk bertanya dan bercerita. Teman sebaya, keluarga, guru, maupun konselor memiliki peran penting agar remaja tidak menghadapi persoalannya sendirian,” ujar Mustikaningtyas.
Siswa diajak untuk mengenali “Triad KRR”, yaitu tiga persoalan yang perlu dihindari dalam perjalanan menuju masa dewasa: pernikahan dini, seks pranikah, dan penyalahgunaan NAPZA. Pendekatan yang dibawa Kemendukbangga/BKKBN tidak semata-mata menekankan penundaan, tetapi mendorong remaja memiliki kesiapan fisik, psikologis, reproduksi, pendidikan, serta kemandirian ekonomi sebelum membangun keluarga. Dengan bekal tersebut, remaja diharapkan mampu menyusun pilihan hidup secara lebih terarah dan tidak mudah mengambil keputusan yang berisiko bagi masa depannya.

Melalui kegiatan di SR Sonosewu, Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN DIY ingin memastikan isu ketahanan remaja tidak berhenti sebagai materi sosialisasi, tetapi menjadi bekal yang bisa dipakai siswa ketika berhadapan dengan pilihan nyata sehari-hari. Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) menjadi salah satu pendekatan yang dapat menyediakan ruang aman bagi remaja untuk berdiskusi, mengembangkan kecakapan hidup, mengelola emosi, dan mendapatkan dukungan ketika menghadapi persoalan. Pada akhirnya, menjadi remaja tangguh bukan berarti tidak pernah menghadapi masalah, melainkan memiliki keberanian untuk mengenali risiko, mencari bantuan, dan tetap memegang kendali atas pilihan hidupnya.
Penulis : Dessy Phawestrina
Editor : Kristian S. Widagdo
Dokumentasi : Tiara Rosivanengtyas, Gunanto
Rilis : Senin, 10 Agustus 2026