Menteri Wihaji Gaungkan “Ayah Wajib Hadir” Melalui Program GEMAR di MAN 1 Yogyakarta

Yogyakarta – Momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 dimanfaatkan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN untuk mengajak para ayah lebih aktif terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Melalui Program Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR), Menteri Wihaji hadir langsung di MAN 1 Yogyakarta, Kamis (25/6). Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata implementasi tema Harganas ke-33 Tahun 2026, yakni “Ayah Wajib Hadir”, yang mengajak para ayah tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga terlibat secara emosional, sosial, dan edukatif dalam tumbuh kembang anak.

Menteri Wihaji hadir bersama Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, Deputi Peran Serta dan Penggerakan Masyarakat, serta Kepala Perwakilan BKKBN DIY. Selain itu turut dihadiri oleh Walikota Yogyakarta dan unsur-unsur terkait, di antaranya Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY. Menteri dan rombongan tamu disambut antusias oleh siswa MAN 1 Yogyakarta dengan penampilan Tari Saman. Shufia, salah satu siswa sekaligus Duta GenRe DIY 2025 bersama rekan-rekannya menjadi fasilitator ketika Menteri Wihaji menyampaikan edukasi kepada siswa dan orangtua yang mengambil rapor, khususnya para ayah.

Menteri Wihaji menegaskan bahwa kehadiran fisik dan psikologis ayah sangat krusial untuk mencegah anak “diasuh” oleh gawai. “Berdasarkan data, rata-rata anak kita mengalami fatherless (kehilangan peran ayah) dan memiliki masalah kesehatan mental. Rata-rata mereka memegang handphone setiap hari 8,7 hingga 10 jam. Algoritma otak kita hampir 60-70 persen dipengaruhi oleh teknologi. Jika tidak hati-hati, orang tua mereka sekarang bukan lagi kita, tetapi handphone,” tegas Wihaji di kelas parenting bersama para ayah.

Ia mengingatkan bahwa teknologi seharusnya diciptakan untuk melayani manusia, bukan sebaliknya. Menurutnya, banyak anak saat ini lebih memilih “curhat” kepada Kecerdasan Buatan (AI-Artificial Intelligence) karena merasa kurang mendapatkan sentuhan emosional dari orang tua. “Kalau dulu anak curhat kepada orang tua, sekarang curhatnya ke AI. Padahal AI tidak punya rasa. Anak-anak kita sebenarnya rindu, bukan hanya butuh uang, tetapi sentuhan psikologis,” tambah Wihaji.

Program GEMAR sendiri merupakan salah satu gerakan nasional yang bertujuan meningkatkan partisipasi ayah dalam pendidikan anak melalui keterlibatan langsung dalam aktivitas sekolah. Gerakan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun budaya pengasuhan yang lebih setara dan kolaboratif antara ayah dan ibu. Di tengah kompleksitas tantangan remaja masa kini, pendampingan yang komunikatif dan kolaboratif dari ayah menjadi kunci penting. Kegiatan GEMAR di MAN 1 Yogyakarta ini diharapkan menjadi model inspiratif bagi para ayah untuk meluangkan waktu di tengah kesibukan mereka guna hadir dalam momen-momen penting kehidupan anak.

Melalui GEMAR, diharapkan semakin banyak ayah yang terlibat aktif dalam proses pendidikan anak, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Kehadiran ayah tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga memperkuat ikatan emosional dalam keluarga yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas generasi penerus bangsa. Dengan keterlibatan ayah yang semakin kuat, diharapkan lahir generasi Indonesia yang lebih percaya diri, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Penulis                 : Dessy Phawestrina

Editor                   : A. Utomo Budi Santoso

Dokumentasi    : Tiara Rosivanengtyas, Gunanto

Rilis                       : Kamis, 25 Juni 2026

Post Terkait