Yogyakarta – Pemerintah terus memperkuat langkah percepatan penurunan stunting melalui optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B). Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Verifikasi Lapangan Teknis Program Percepatan Penurunan Stunting yang dilaksanakan Kantor Staf Presiden (KSP) bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di ruang Widya 1 Perwakilan BKKBN DIY, Rabu (1/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengendalian dan evaluasi Program Prioritas Presiden guna memastikan implementasi MBG 3B berjalan tepat sasaran, berkualitas, serta mampu mempercepat penurunan angka stunting melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Gizi Nasional (BGN), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Penyuluh Keluarga Berencana/Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PKB/PLKB), Tim Pendamping Keluarga (TPK), dan kader Posyandu.
Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN DIY, Rohina, M.Si., menjelaskan bahwa keberhasilan percepatan penurunan stunting hanya dapat dicapai melalui kerjasama seluruh pemangku kepentingan.
“Percepatan penurunan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab satu instansi, melainkan sebuah gerakan bersama yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Kami terus memperkuat kolaborasi lintas sektor agar setiap keluarga memperoleh layanan yang berkualitas sejak masa sebelum kehamilan hingga tumbuh kembang anak,” ujar Rohina.
Menurut Rohina, DIY memiliki modal sosial yang kuat dalam mendukung implementasi program. Saat ini terdapat 172 Penyuluh KB/PLKB dan 5.556 TPK yang mendampingi calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca persalinan, hingga keluarga yang memiliki balita.
Beliau menambahkan, berdasarkan data penimbangan, prevalensi stunting di DIY saat ini mencapai 11,19 persen. Sementara itu, hingga Juni 2026 telah terbentuk 458 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di DIY, dengan 281 SPPG yang telah melayani sasaran MBG 3B.
“Dari total sasaran sebanyak 144.677 ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, penerima manfaat MBG 3B telah mencapai 60.197 orang atau 41,61 persen. Capaian ini menunjukkan progres yang baik, namun masih perlu kita percepat agar seluruh sasaran dapat memperoleh layanan,” tambahnya.
Tenaga Ahli Utama Kedeputian III Kantor Staf Presiden, Dr. Zahera Mega Utama, S.E., M.M., menegaskan bahwa Program MBG 3B merupakan investasi strategis pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan, fase paling menentukan dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Zahera juga meminta seluruh pengelola SPPG memperkuat koordinasi dengan Kemendukbangga/BKKBN, pemerintah daerah, dan BGN agar pelaksanaan MBG 3B dapat berjalan sesuai standar pelayanan.
“Program MBG 3B jangan sampai dinomorduakan. Distribusinya harus tepat sasaran, kualitas dan kuantitas makanannya harus dijaga karena kelompok penerima merupakan kelompok yang paling membutuhkan,” tegas Zahera.
Senada dengan hal itu, Tenaga Ahli Madya Kedeputian III Kantor Staf Presiden, dr. Adele Hutapea, S.Ked., M.Kes., menilai Tim Pendamping Keluarga memiliki posisi strategis dalam mendukung keberhasilan program.
“TPK merupakan mitra strategis dalam upaya penurunan stunting. Sinergi antara TPK, Posyandu, SPPG, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar intervensi gizi benar-benar diterima oleh kelompok sasaran,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, peserta menyampaikan berbagai masukan terkait implementasi MBG 3B di lapangan, mulai dari mekanisme distribusi makanan, variasi menu, pengawasan kualitas makanan, koordinasi antar instansi, hingga penyelarasan data penerima manfaat agar tidak terjadi tumpang tindih dengan program bantuan lainnya.
Masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi bersama bagi Kantor Staf Presiden, Kemendukbangga/BKKBN, Badan Gizi Nasional, serta pemerintah daerah dalam menyempurnakan pelaksanaan Program MBG 3B di berbagai daerah.

Melalui verifikasi lapangan ini, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan setiap ibu hamil, ibu menyusui, dan balita memperoleh akses terhadap asupan gizi yang berkualitas. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat penurunan stunting sekaligus menjadi fondasi penting dalam mewujudkan generasi sehat, berkualitas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Penulis : Kristian S. Widagdo
Editor : Dessy Phawestrina
Dokumentasi : Tiara Rosivanengtyas, Gunanto
Rilis : Rabu, 1 Juli 2026