Pendahuluan
Saat ini, Indonesia telah memasuki era ageing population, yaitu kondisi ketika proporsi penduduk lanjut usia (lansia) meningkat secara signifikan dibanding kelompok usia lainnya. Fenomena ini terjadi seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup, kualitas kesehatan, dan pembangunan sosial ekonomi masyarakat. Perubahan struktur demografi menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Pemerintah perlu mempersiapkan berbagai kebijakan yang mendukung kesejahteraan lansia, seperti layanan kesehatan, jaminan sosial, dan fasilitas publik yang ramah usia.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi provinsi dengan persentase lansia tertinggi di Indonesia. Kondisi tersebut menuntut kesiapan pemerintah, masyarakat, keluarga, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memastikan lansia tetap sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat. Lansia tidak lagi dipandang sebagai kelompok yang identik dengan ketergantungan, melainkan sebagai sumber daya manusia yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan potensi besar untuk tetap berkontribusi dalam kehidupan sosial maupun pembangunan.
Dalam konteks tersebut, Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN DIY terus memperkuat berbagai program kelanjutusiaan, salah satunya melalui penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Fasilitator Sekolah Lansia yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM) serta Indonesia Ramah Lansia (IRL). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas para fasilitator agar mampu mendampingi lansia secara optimal di lingkungan masyarakat. Program ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem lansia berdaya yang berbasis komunitas dan keluarga.
Pembahasan
Ageing Population di DIY: Tantangan dan Peluang
Lanjut Usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun (enam puluh) tahun keatas (UU No. 13, 1998). Fenomena peningkatan jumlah penduduk lansia di Indonesia terus mengalami kenaikan setiap tahun. Berdasarkan aspek demografi, sebesar 11,93 persen penduduk Indonesia pada tahun 2025 adalah lansia (Badan Pusat Statistik, 2025). Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia telah memasuki era masyarakat menua (ageing population).
DIY menjadi provinsi dengan persentase penduduk lansia dan usia harapan hidup tertinggi secara nasional. Persentase penduduk lansia di DIY mencapai 16,61 persen dengan usia harapan hidup 75,18 tahun. Usia harapan hidup perempuan mencapai 76,93 tahun, sedangkan laki-laki mencapai 73,28 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di DIY relatif baik dibandingkan daerah lain di Indonesia.
Peningkatan jumlah lansia tentu membawa konsekuensi yang cukup besar, baik dari sisi sosial, kesehatan, ekonomi, maupun pelayanan publik. Lansia rentan menghadapi berbagai persoalan seperti penyakit degeneratif, keterbatasan fisik, kesepian, ketergantungan ekonomi, hingga menurunnya kesehatan mental. Namun di sisi lain, lansia memiliki pengalaman hidup, nilai budaya, pengetahuan, dan jejaring sosial yang dapat menjadi modal sosial bagi pembangunan masyarakat.Lansia yang sehat, aktif, dan produktif berpotensi menjadi “bonus demografi kedua” bagi Indonesia.
Apabila dipersiapkan sejak dini dengan program-program yang bersifat population responsive, fenomena ageing population tidak akan menimbulkan masalah, bahkan justru berpeluang menjadi bonus demografi kedua, yaitu ketika proporsi lansia semakin banyak tetapi masih produktif dan dapat memberikan kontribusi bagi perekonomian negara (Heryanah, 2015). Oleh sebab itu, pendekatan pembangunan lansia saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada aspek perlindungan sosial, tetapi juga pemberdayaan lansia agar tetap memiliki kualitas hidup yang baik dan mampu berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Lansia Berdaya sebagai Aset Pembangunan
Konsep lansia berdaya menempatkan lansia sebagai subjek pembangunan yang tetap memiliki kemampuan untuk berkontribusi sesuai potensi dan kapasitasnya. Lansia yang berdaya adalah lansia yang sehat secara fisik dan mental, mandiri dalam beraktivitas sehari-hari, aktif bersosialisasi, serta tetap memiliki produktivitas dan rasa bermakna dalam hidupnya. Dengan kondisi tersebut, lansia tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga dapat berperan aktif dalam keluarga maupun masyarakat.
Kemendukbangga/BKKBN dengan Program Prioritas Lansia Berdaya (SIDAYA) berupaya membangun sistem pendampingan dan pemberdayaan lansia melalui kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) dan Sekolah Lansia (SL). Program ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup lansia melalui pendekatan edukasi, pembinaan keluarga, serta penguatan komunitas. Melalui BKL, keluarga didorong untuk memahami cara merawat dan mendampingi lansia agar tetap sehat, mandiri, dan bahagia di usia lanjut. Sementara itu, Sekolah Lansia hadir sebagai sarana pembelajaran bagi lansia untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta menjaga kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual. Program SIDAYA juga menekankan pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang ramah lansia dan mendukung penuaan sehat (healthy ageing).
Lansia yang berdaya dapat memberikan dampak positif bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Mereka dapat menjadi sumber nasihat, pengasuh cucu, pelestari nilai budaya, penggerak kegiatan sosial, hingga pelaku usaha produktif. Keberadaan lansia yang aktif dan mandiri juga dapat mengurangi ketergantungan serta beban sosial dan ekonomi keluarga. Dengan demikian, pemberdayaan lansia sesungguhnya merupakan investasi sosial jangka panjang. Oleh karena itu, dukungan terhadap program pemberdayaan lansia perlu terus diperkuat agar lansia dapat menjalani masa tua yang sehat, bermartabat, dan tetap berkontribusi bagi pembangunan masyarakat.
ToT Fasilitator Sekolah Lansia: Kolaborasi Kemendukbangga/BKKBN DIY, FKKMK UGM, dan Indonesia Ramah Lansia (IRL)
Sebagai upaya memperkuat kualitas pelaksanaan Sekolah Lansia, Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN DIY menginisiasi penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Fasilitator Sekolah Lansia. ToT dilaksanakan dua hari pada 20–21 Mei 2026 di Kantor Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN DIY. Kegiatan ini berkolaborasi dengan FKKMK UGM dan Indonesia Ramah Lansia (IRL).
Dalam dokumen panduan kegiatan ToT Fasilitator Sekolah Lansia disebutkan bahwa visi Sekolah Lansia adalah mewujudkan lansia SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, dan Produktif) melalui penguatan “Tujuh Dimensi Lansia Tangguh” yang meliputi spiritual, fisik, emosional, intelektual, sosial, vokasional, dan lingkungan. Pendekatan ini sangat penting karena persoalan lansia tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental, relasi sosial, lingkungan yang aman, hingga kesempatan untuk tetap berkarya dan berpartisipasi dalam masyarakat.
Kegiatan ToT Fasilitator Sekolah Lansia bertujuan untuk (Timja KS Perwakilan BKKBN DIY, 2026):
- meningkatkan kualitas kegiatan kelompok BKL dalam mewujudkan Lansia Tangguh pada Sekolah Lansia yang telah berjalan;
- meningkatkan pemahaman kader BKL tentang konsep lansia SMART dalam lingkup 7 Dimensi Lansia Tangguh;
- meningkatkan kompetensi kader BKL untuk menjadi fasilitator/narasumber dalam pelaksanaan Sekolah Lansia; serta
- memfasilitasi keberlanjutan pelaksanaan program Sekolah Lansia.
Peserta kegiatan terdiri dari kader BKL dan Penyuluh Keluarga Berencana/ Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PKB/PLKB) dari Kabupaten Bantul yang diwakili Kapanewon Kretek, Pandak, dan Bantul, serta Kabupaten Kulon Progo yang diwakili Kapanewon Pengasih, dan Kalibawang.
ToT dilaksanakan secara tatap muka dalam kelas dengan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan roleplay untuk membekali peserta dengan kompetensi teknis dan non-teknis agar mampu menyampaikan materi Sekolah Lansia dengan efektif. Materi yang diberikan sangat komprehensif berdasarkan modul yang telah disusun meliputi:
- Bagaimana Menua yang Sehat dan Aktif?
- Apa Masalah Fisik yang Sering Terjadi Pada Lansia?
- Apa Masalah Mental yang Sering Terjadi Pada Lansia?
- Bagaimana Merespon Stressor Pada Lansia Secara Positif?
- Mengapa Aku Mudah Lupa?
- Mengapa Lansia Mudah Jatuh?
- Bagaimana Memenuhi Gizi Seimbang Pada Lansia?
- Tidur Berkualitas di Usia Lansia
- Bagaimana Rumah yang Aman dan Nyaman Bagi Lansia?
- Mengapa Lansia Harus Tetap Bersih dan Rapi?
- Bagaimana Lansia Berbudaya Sambil Berekreasi?
- Tetap Mandiri dan Berdaya di Usia Tua
- Teknik Fasilitasi
Heru Subekti, salah satu Fasilitator ToT Fasilitator Sekolah Lansia dari FKKMK UGM menyatakan “Dengan jumlah lansia tertinggi di Indonesia, DIY memiliki tantangan untuk mempertahankan kemandirian lansia melalui program-program yang telah diimplementasikan. Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN DIY bersama FKKMK UGM dan IRL menyusun metode pembelajaran yang efektif namun sederhana dengan pendekatan community based sehingga dapat diaplikasikan oleh fasilitator yang telah terlatih” ujarnya.
Kolaborasi dengan FKKMK UGM memberikan penguatan dari sisi akademik dan kesehatan masyarakat, sedangkan Indonesia Ramah Lansia berperan dalam pengembangan pendekatan komunitas dan penguatan kurikulum berbasis kearifan lokal. Lebih lanjut, Heru menyampaikan “Para lansia dan keluarga perlu dibekali agar memiliki cara pandang yang positif, bukan hanya kesehatan fisik yang harus dijaga, namun yang tidak kalah penting juga kesehatan mental dalam merespon permasalahan yang luar biasa kompleks. Salah satu caranya melalui Sekolah Lansia karena akan diajarkan, bagaimana menghadapi stressor, menghadapi persoalan hidup, selain juga mengajarkan bagaimana mencegah penyakit, membangun hubungan dengan orang lain, termasuk juga aspek spiritualitas”, imbuhnya.
Penutup
Fenomena ageing population di DIY merupakan tantangan sekaligus peluang besar dalam pembangunan. Meningkatnya jumlah lansia harus direspons melalui kebijakan dan program yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan sosial, tetapi juga pemberdayaan lansia agar tetap sehat, mandiri, aktif, dan produktif. Penyelenggaraan ToT Fasilitator Sekolah Lansia oleh Kemendukbangga/BKKBN DIY bersama FKKMK UGM dan Indonesia Ramah Lansia menjadi langkah strategis dalam mendukung terwujudnya lansia SMART melalui penguatan edukasi, pendampingan, dan pemberdayaan berbasis masyarakat.
Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Rohina, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan mendorong perluasan Sekolah Lansia di DIY. “Kami mengharapkan kerjasama, partisipasi dan sinergi dari semua pihak agar dapat mewujudkan lansia tangguh yang sehat, merasa aman dan mampu berpartisipasi dalam kegiatan sesuai dengan minat dan potensinya melalui integrasi kebijakan layanan terhadap lansia. Semoga dengan kerjasama ini pelaksanaan Sekolah Lansia di DIY dapat berjalan dengan lebih baik, berkelanjutan, serta meluas di seluruh wilayah”, tegas Rohina (Rohina, 2026).
Melalui ToT ini, diharapkan tersedia fasilitator yang mampu mendampingi pelaksanaan Sekolah Lansia secara berkelanjutan di tingkat komunitas sehingga manfaat program dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Kehadiran fasilitator yang kompeten juga diharapkan mampu memperkuat peran keluarga dan komunitas dalam mendukung lansia agar tetap aktif, mandiri, dan produktif. Dengan sinergi seluruh pihak, lansia Indonesia, khususnya di DIY diharapkan tidak hanya memiliki usia panjang, tetapi juga kualitas hidup yang baik, sehat, bahagia, dan tetap bermakna bagi keluarga maupun masyarakat.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025. 22.
Heryanah. (2015). AGEING POPULATION DAN BONUS DEMOGRAFI KEDUA DI INDONESIA. 23.
Rohina. (2026). Sambutan Kaper dalam ToT Fasilitator Sekolah Lansia.
Timja KS Perwakilan BKKBN DIY. (2026). KAK ToT Care.
UU No. 13. (1998). UU 13 Tahun 1998.
Penulis : Dessy Phawestrina
Editor : Tim Humas dan Tim KS
Dokumentasi : Gunanto
Rilis : Jumat, 22 Mei 2026
Dokumentasi hari 1 : https://drive.google.com/drive/folders/1rpeLIp1h2P-RHUO-liZnV-l_Vyo5PJoI
Dokumentasi hari 2 : https://drive.google.com/drive/folders/1wDPl58_MT0pCyWzSU2yL0SAhuUlliJ-V
Berita website ToT hari 1 telah tayang Rabu, 20 Mei 2026 di warta.bkkbndiy.id:https://warta.bkkbndiy.id/kemendukbangga-bkkbn-diy-perkuat-lansia-melalui-tot-fasilitator-wujudkan-lansia-smart-dan-berbudaya/