GUNUNGKIDUL — Kesempatan untuk terus belajar, menjaga kesehatan, dan berperan aktif di tengah masyarakat tidak berhenti ketika seseorang memasuki usia lanjut. Semangat inilah yang diperkuat melalui peluncuran Sekolah Lansia (SL) Rambutan di Padukuhan Karang, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Rabu (21/10/2026). Kehadiran sekolah ini menjadi langkah untuk mendukung lanjut usia (lansia) agar tetap sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat atau SMART.
Sekolah Lansia Standar Satu (S1) ini menjadi ruang belajar yang mendorong para lansia menjaga kualitas hidup, memperluas interaksi sosial, serta mengembangkan potensi diri. Melalui kegiatan pembelajaran yang terarah dan berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kepercayaan diri lansia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pelaksanaannya membutuhkan dukungan keluarga, kader, pemerintah, dan masyarakat agar proses menua dapat dijalani secara sehat dan bermakna.
Program Sekolah Lansia S1 BKL Rambutan merupakan bagian dari kolaborasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Perwakilan BKKBN DIY, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Indonesia Ramah Lansia (IRL), serta pemerintah setempat dan masyarakat. Sinergi lintas sektor ini diharapkan menjadi fondasi bagi penyelenggaraan pendidikan lansia yang berkelanjutan dan dapat dikembangkan di wilayah lain.
Sekretaris Perwakilan BKKBN DIY, Rohdhiana Sumariati, S.Sos., M.Sc, dalam sambutan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengoptimalkan potensi penduduk lansia di tengah meningkatnya usia harapan hidup.
“Kita perlu melakukan aksi nyata dalam membangun lingkungan yang memungkinkan lansia tetap sehat, aktif, dan berdaya, sekaligus memberi mereka kesempatan untuk terus belajar dan berkembang,” tekannya.
Pentingnya program ini juga sejalan dengan dinamika demografi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk lansia Indonesia pada 2025 mencapai 17,78 persen. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tercatat sebagai provinsi dengan persentase penduduk lansia tertinggi di Indonesia. Bahkan, jumlah lansia diperkirakan mencapai seperlima dari total penduduk pada 2045.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Lansia tidak hanya membutuhkan perhatian dan perlindungan, tetapi juga kesempatan untuk terus belajar, menjaga kesehatan, mengembangkan potensi, serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Penyediaan wadah seperti BKL dan SL menjadi kunci penting untuk mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, aktif, dan produktif.
“Usia boleh bertambah, tetapi ruang untuk belajar, bersosialisasi, dan berkarya harus tetap terbuka. Sekolah Lansia hadir untuk mendampingi para lansia mengoptimalkan minat dan potensi diri mereka,” pesan Rohina.
Sebagai bagian dari penguatan pelaksanaan program, para kader BKL dari Kapanewon Panggang, Saptosari, Semanu, Paliyan, dan Tanjungsari sebelumnya telah mengikuti pelatihan serta pembekalan selama dua hari. Materi pembekalan mencakup peran kader sebagai fasilitator dalam kegiatan Sekolah Lansia dan pemahaman mengenai penyelenggaraan Sekolah Lansia.
Pelatihan tersebut terlaksana berkat kerja sama Perwakilan BKKBN DIY dengan FKKMK UGM dan Indonesia Ramah Lansia. Kader yang terlatih diharapkan dapat mendukung kegiatan Sekolah Lansia agar berjalan terarah dan berkelanjutan. Ke depan, model kolaborasi ini diharapkan dapat direplikasi di BKL lainnya dengan menyesuaikan kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah.
Keberlanjutan Sekolah Lansia sangat bergantung pada komitmen berbagai pihak terkait. Kemendukbangga/BKKBN mendorong operasional Sekolah Lansia diusulkan dalam Musrenbang agar berkesempatan mendapatkan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Kalurahan (APBKal) di tahun mendatang. Selain itu, usulan tersebut juga dapat dimasukkan dalam bahan aspirasi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) melalui Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD. Di sisi lain, masyarakat perlu menyadari bahwa lansia adalah aset pembangunan yang berharga, dengan wadah dan lingkungan yang mendukung, pengalaman serta potensi mereka akan terus memberikan dampak positif.
Peluncuran SL Rambutan menjadi ajakan untuk memperkuat kepedulian dan kerja bersama dalam mewujudkan lansia SMART. Pemerintah, keluarga, kader, komunitas, dan masyarakat diharapkan terus berkolaborasi agar para lansia dapat menjalani masa tua dengan sehat, aman, mandiri, dan bermartabat. Dengan demikian, Sekolah Lansia dapat tumbuh menjadi bagian dari gerakan menuju masyarakat yang inklusif dan ramah lansia. Mari bersinergi dan ambil bagian nyata dalam mewujudkan lansia yang sehat, bahagia, dan berdaya!
Penulis : Dessy Phawestrina
Editor : Ratna Anita Sari
Dokumentasi : Laili Hidayah
Rilis : Rabu, 21 Oktober 2026