TAK ADA SEKOLAH FORMAL JADI ORANGTUA, “KERABAT” BEKALI KADER BKB DAMPINGI KELUARGA DI 1000 HPK

YOGYAKARTA — Upaya menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas tidak hanya ditentukan oleh pemenuhan gizi dan layanan kesehatan. Cara orang tua mengasuh, memberikan stimulasi, membangun komunikasi, hingga menghadirkan dukungan emosional bagi anak menjadi bagian penting yang menentukan tumbuh kembang sejak awal kehidupan. Namun, hingga saat ini belum ada sekolah formal untuk menjadi orang tua. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan “Temu Kader Bina Keluarga Balita (BKB) dalam rangka Internalisasi Pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui Kelas Orang Tua Hebat (KERABAT)” di Yogyakarta, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan yang digelar Kemendukbangga/BKKBN DIY secara hybrid tersebut dimaksudkan untuk memperkuat kapasitas kader BKB sebagai penggerak pengasuhan di tengah keluarga. Peserta terdiri dari jajaran OPD KB kabupaten/kota se-DIY, PKB/PLKB, kader BKB/BKR/TPK, serta peserta yang mengikuti secara luring maupun daring. Kegiatan BKB dirancang dengan menempatkan ibu hamil serta orang tua atau wali asuh anak usia dini sebagai sasaran penting. Melalui program pengasuhan, keluarga dibekali pengetahuan mengenai stimulasi fisik, mental, intelektual, sosial, emosional, spiritual, dan moral agar proses pengasuhan berlangsung positif, berkesinambungan, serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN DIY, Rohdhiana Sumariati, S. Sos., M.Sc, yang membuka kegiatan menyampaikan bahwa periode 1.000 HPK perlu mendapat perhatian khusus karena menjadi salah satu fase penting dalam menentukan pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Kekurangan gizi kronis yang berkaitan dengan stunting dapat berdampak pada perkembangan otak, kemampuan kognitif, hingga produktivitas dalam jangka panjang.

“Kita perlu memastikan bahwa orang tua memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan untuk menjalankan pengasuhan yang tepat. Di sinilah peran Kelas Orang Tua Hebat atau KERABAT menjadi sangat strategis,” ujar Rohdhiana.

Menurutnya, pencegahan stunting tidak cukup dilakukan melalui intervensi kesehatan dan pemenuhan gizi. Keluarga perlu dibekali kemampuan untuk menerapkan pengasuhan yang sesuai dengan kebutuhan anak, terutama pada masa 1.000 HPK. KERABAT kemudian diposisikan bukan sekadar sebagai tempat menyampaikan informasi, melainkan sebagai ruang belajar bersama bagi orang tua. Melalui forum tersebut, keluarga dapat berbagi pengalaman, mendiskusikan persoalan pengasuhan, dan mencari solusi atas tantangan yang mereka hadapi dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Peran kader menjadi semakin strategis karena mereka merupakan pihak yang dekat dengan keluarga di masyarakat. Kader tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi teman belajar bagi orang tua, penghubung antara program dan keluarga, sekaligus penggerak agar pengetahuan tentang pengasuhan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di DIY, terdapat 1.473 kelompok BKB dengan 11.080 kader yang memberdayakan 43.873 anggota BKB. Namun, pelaksanaan di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rendahnya kehadiran peserta, keterampilan kader dalam menjangkau masyarakat, keterbatasan akses terhadap materi dan media pembelajaran, hingga belum optimalnya dukungan operasional serta monitoring dan evaluasi kelas pengasuhan. Karena itu, kegiatan temu kader diarahkan untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, dan motivasi kader, sekaligus menyediakan materi, modul, serta media belajar yang dapat mendukung pelaksanaan pengasuhan anak usia dini di masyarakat. Temu kader ini tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi dirancang untuk memperkaya perspektif dan keterampilan kader dalam mendampingi keluarga. Materi yang diberikan mencakup “Program Pengasuhan Anak Usia Dini berbasis Nurturing Care Framework” oleh Dr. Mustikaningtyas, S.Psi, MPH., Psikolog, motivasi menjadi orang tua melalui tema “Mengasuh dengan Bahagia” oleh Coach Hendri Harjanto, pengenalan literasi keuangan oleh Bank Indonesia, pendalaman materi melalui kegiatan luar ruang oleh Diaz Fahmi Zakiy Susilo, hingga cooking demo makanan pendamping air susu ibu (MPASI) dari PT. Indofood.

Pengasuhan 1.000 HPK sendiri sesungguhnya hadir melalui praktik-praktik sederhana di dalam keluarga. Dukungan suami kepada ibu hamil, pemenuhan kebutuhan gizi anak, pemberian stimulasi sesuai usia, kehadiran emosional ayah dan ibu, komunikasi positif, serta lingkungan yang aman merupakan bagian dari proses tersebut. Karena itu, Rohdhiana mengajak seluruh kader BKB untuk menjadikan setiap pertemuan BKB dan KERABAT sebagai ruang perubahan.

“Mari kita jadikan setiap pertemuan BKB dan KERABAT sebagai kesempatan untuk membuat satu keluarga menjadi lebih paham, satu orang tua menjadi lebih percaya diri, dan satu anak mendapatkan pengasuhan yang lebih baik,” ajaknya.Kolaborasi dengan mitra strategis menjadi bagian penting untuk memperkuat edukasi dan pemberdayaan keluarga. Dukungan Bank Indonesia dan PT. Indofood dalam kegiatan ini menjadi contoh nyata bahwa pembangunan keluarga dan kualitas generasi masa depan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Penguatan pengasuhan perlu terus digerakkan dari tingkat keluarga hingga komunitas. Kader BKB, orang tua, pemerintah, dan seluruh mitra pembangunan dapat mengambil peran dengan memperkuat edukasi, menghadirkan ruang belajar, serta memastikan praktik pengasuhan yang tepat. Sebab, dari kader yang hebat lahir orang tua yang semakin hebat, dan dari orang tua yang hebat akan tumbuh anak-anak yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.

Penulis : Dessy Phawestrina

Editor : Yurniati

Dokumentasi : Tiara Rosivanengtyas

Rilis : Rabu, 16 September 2026

Related posts