MEMPOPULERKAN “SAKARI” DI FESTIVAL PRAMUKA JOGJA 2026, REMAJA DIDORONG MENJADI AGEN PERUBAHAN CEGAH STUNTING

Bukan sekadar forum berbagi pengetahuan, workshop dikemas secara menarik dan interaktif dengan menghadirkan Shufia Agnia, Duta Genre DIY 2025 serta Diduk dari Dinas Kelautan dan Perikanan DIY sebagai Fasilitator. Keduanya mengajak peserta melihat persoalan stunting dari sudut yang lebih dekat dengan kehidupan remaja: gizi, ketahanan pangan keluarga, kemandirian, serta kesiapan membangun keluarga berkualitas di masa depan. Pola interaktif membuat peserta tidak hanya menyimak, tetapi terlibat dalam pembahasan dan pengenalan praktik budidaya lele.

“Mengapa pencegahan stunting perlu dikenalkan sejak remaja? Karena teman-teman remaja adalah calon pembentuk keluarga di masa depan. Remaja diharapkan dapat melakukan perubahan yang dimulai dari diri sendiri,” ujar Fia – sapaan akrab Shufia – kepada peserta.

Budidaya lele diperkenalkan sebagai salah satu alternatif pemenuhan protein hewani keluarga yang relatif mudah diterapkan bahkan di lahan yang terbatas karena dapat memanfaatkan barang bekas sebagai medianya. Pada saat bersamaan, peserta dikenalkan pada gagasan bahwa pemenuhan gizi, ketahanan pangan, dan kemandirian keluarga dapat dibangun melalui pemanfaatan sumber daya yang ada di sekitar. Melalui pemahaman proses budidaya lele ini, remaja diharapkan dapat memahami bagaimana pangan bergizi dapat diupayakan secara mandiri sekaligus menjadi bagian dari solusi bagi keluarga. Selain itu, keterampilan praktis ini juga melatih kreativitas dan kepedulian lingkungan generasi muda dalam mengelola potensi di sekitar mereka.

Pendekatan ini sekaligus memperluas cara pandang peserta terhadap stunting. Isu tersebut tidak semata-mata ditempatkan sebagai persoalan kesehatan, melainkan berkaitan erat dengan pengetahuan, perilaku, pola konsumsi, ketahanan pangan, dan kesiapan generasi muda dalam merencanakan kehidupan berkeluarga. Sinergi Saka Kencana, Saka Bahari, Forum Genre DIY, SSK, PIK-R, dan Pramuka Peduli Kependudukan menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan literasi dalam mencegah stunting dan meningkatkan kualitas penduduk. Seluruh peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan sekaligus agen edukasi yang membawa pesan tersebut ke teman sebaya, keluarga, sekolah, dan masyarakat.

“Pengetahuan ini jangan sampai berhenti di teman-teman aja, manfaatkan kesempatan untuk aktif menjadi penggerak, sebarluaskan pengetahuan yang diperoleh, dan lakukan aksi nyata di lingkungan kalian masing-masing,” pesan Fia di sesi akhir workshop.

Melalui kegiatan ini, Festival Pramuka Jogja 2026 menunjukkan bahwa pendidikan kependudukan dapat dikemas secara kreatif, aplikatif, dan menyentuh persoalan sehari-hari. Semangat kemandirian, kepedulian, kerja sama, dan pengabdian dipertautkan dengan upaya membangun keluarga sehat dan generasi berkualitas. Bibit lele yang dibagikan kepada peserta menjadi simbol sederhana dari sebuah gagasan besar: perubahan tidak selalu lahir dari sesuatu yang spektakuler, tetapi dimulai dari pengetahuan yang dipraktikkan dan dirawat secara konsisten. Dari tangan para remaja itulah, gerakan pencegahan stunting diharapkan menemukan jalur baru, tumbuh dari keluarga, menyebar melalui lingkungan, dan kelak berbuah menjadi generasi yang lebih sehat dan berkualitas.

Penulis : Dessy Phawestrina

Editor : Tiara Rosivanengtyas

Dokumentasi : Rahmat Wahab

Rilis : Sabtu, 29 Agustus 2026

Related posts