Kepala Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta, Shodiqin, SH, MM dan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah, drg. Widwiono, M.Kes, Senin (13/12/2021) melaksanakan koordinasi dengan Rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta, Prof. dr. Hamam Hadi, M.S., Sc.D., Sp.G.K.
Bertempat di ruang rapat Universitas Alma Ata Yogyakarta, pertemuan tersebut membahas tentang keterlibatan Forum Rektor Indonesia dalam percepatan penurunan stunting di Indonesia. Prof. Hamam menjelaskan bahwa Universitas Alma Ata telah melakukan inisiasi di dalam simposium nasional yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu. Forum Rektor Indonesia dengan jumlah anggota mencapai lebih dari empat ribu orang tersebut siap mendukung pemerintah dalam percepatan penurunan stunting.
Dalam pertemuan tersebut, Kepala Perwakilan BKKBN DIY menginformasikan bahwa untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Perwakilan BKKBN DIY mempunyai sebuah inovasi yaitu Gerakan Kader EMAS (Eliminasi Masalah Anak Stunting). Kader-kader yang terlibat dalam gerakan tersebut telah mendapatkan pelatihan dan diberikan tugas yaitu satu orang kader mengawal delapan anak dengan masalah stunting. Anggota gerakan kader EMAS terdiri dari beberapa unsur, antara lain Genre, Pemuda Muhammadiyah dan Pemuda Anshor. Gerakan ini terselenggara atas kerja sama Perwakilan BKKBN DIY dengan Bank BPD DIY dan mitra kerja terkait. Dalam pelaksanaan tugas di lapangan, kader EMAS berkolaborasi dengan Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Sedangkan untuk wilayah Jawa Tengah, ada gerakan yang dicanangkan oleh Gubernur Jawa Tengah yaitu “Student OSOC: one student one client†yaitu satu orang mahasiswa/anggota kelompok masyarakat/LSM/pemerhati/pihak manapun yang peduli untuk mendampingi satu orang ibu hamil.

Prof. Hamam menjelaskan bahwa Universitas Alma Ata mendapatkan vocal point untuk penanganan stunting di Provinsi Jawa Tengah. Terdapat 14 (empat belas) kabupaten/kota lokasi percepatan penurunan stunting di Provinsi Jawa Tengah yang akan menjadi lokus garapan dan sedang dipetakan perguruan tinggi pengampu dari masing-masing wilayah tersebut. Perguruan Tinggi tersebut mempunyai program studi di bidang Kesehatan. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk perguruan tinggi yang tidak memiliki prodi kesehatan, dapat turut serta terlibat dalam penanganan percepatan penurunan stunting di Indonesia. Misalnya, perguruan tinggi yang memiliki prodi teknik, dapat membantu dalam persiapan sarana air bersih, dll.
Lebih lanjut, Prof. Hamam mengatakan bahwa jika pemetaan perguruan tinggi telah selesai, akan dilaksanakan pertemuan secara virtual agar para rektor perguruan tinggi tersebut dapat berkoordinasi secara langsung dengan Kepala BKKBN, Dr. (H.C.) dr, Hasto Wardoyo, Sp.OG(K). Selanjutnya, diharapkan dapat tersusun sebuah guideline sebagai pedoman pelaksanaan teknis di lapangan. BKKBN dan perguruan tinggi diharapkan dapat memastikan data by name by address di setiap desa agar program ini dapat berjalan dengan baik dan tepat sasaran.
-Humas-