YOGYAKARTA – Tuntutan pekerjaan, tekanan tanggung jawab, hingga dinamika kehidupan sehari-hari dapat menguras energi dan memengaruhi kesehatan mental seseorang. Jika kelelahan terus berlangsung tanpa pengelolaan yang tepat, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi burnout. Bukan sekadar rasa lelah biasa, burnout dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan sesuatu, hingga mengambil keputusan.
Bornout merupakan isu yang semakin relevan dengan situasi dan kondisi saat ini sehingga menjadi perhatian dalam kegiatan Jumat Sharing Seri 18, Jumat (30/10/2026). Materi ini juga bertepatan dengan momen Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day) yang diperingati setiap tanggal 10 Oktober. Jumat Sharing Seri 18 ini dipersembahkan oleh Dewan Pimpinan Cabang Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (DPC IPeKB) Kabupaten Gunungkidul.
Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Rohina, M.si, menekankan pentingnya kegiatan Jumat Sharing sebagai ruang belajar bersama, berbagi pengalaman, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kesejahteraan pegawai. Beliau juga mengajak seluruh pegawai untuk membangun lingkungan kerja yang suportif, saling peduli, dan tidak ragu mencari bantuan profesional ketika menghadapi persoalan kesehatan mental.
Mengangkat tema “Rahasia di Balik Burnout: Bukan Sekadar Kelelahan Biasa”, kegiatan menghadirkan narasumber dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ (K), seorang psikiater, konsultan psikiatri komunitas, edukator, sekaligus kreator konten edukasi kesehatan mental. Melalui pemaparan yang dimoderatori Asar Janjang Lestari, S,Psi., MAP, PKB Ahli Madya Kabupaten Gunungkidul, peserta diajak memahami burnout secara lebih mendalam, mengenali gejalanya, serta mengetahui pentingnya pengelolaan stres dan kesehatan mental.
Dalam materinya, dr. Ida mengajak peserta untuk tidak menyamakan burnout dengan kelelahan biasa. Burnout perlu dikenali karena dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas dan menentukan pilihan. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah mengapa seseorang yang mengalami stres, burnout, maupun depresi dapat mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan.
“Burnout bukan sekadar kelelahan biasa. Penting bagi kita untuk mengenali gejalanya dan memahami bagaimana kondisi tersebut memengaruhi diri kita, termasuk dalam berpikir dan mengambil keputusan,” pesan yang disampaikan dr. Ida.
Bagi pegawai BKKBN DIY, khususnya PKB/PLKB yang berhadapan langsung dengan masyarakat, pemahaman ini menjadi penting. Tuntutan pelayanan, mobilitas, interaksi sosial, serta tanggung jawab pekerjaan membutuhkan kondisi fisik dan mental yang terjaga. Kesehatan mental bukan hanya urusan pribadi, melainkan juga bagian penting dalam mendukung kualitas kinerja dan pelayanan publik.
Melalui Jumat Sharing Seri 18, Perwakilan BKKBN DIY berharap pengetahuan mengenai burnout tidak berhenti sebagai informasi semata, tetapi menjadi bekal untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengenali kondisi diri, mengelola stres, menjaga keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, serta membangun komunikasi yang sehat merupakan langkah penting untuk mencegah dampak burnout.
Memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dimulai dari kemampuan merawat diri sendiri. Seperti kursi yang berdiri kokoh dengan empat kaki, hidup yang sehat ditopang oleh keseimbangan fisik, mental, sosial, dan spiritual. Mari lebih peka terhadap kesehatan mental, berani mengenali tanda-tanda burnout, saling menguatkan di lingkungan kerja, dan jangan ragu mencari pertolongan ketika diperlukan. Pegawai yang sehat secara fisik dan mental adalah salah satu fondasi penting untuk mewujudkan pelayanan Kemendukbangga/BKKBN yang semakin berkualitas dan berdampak bagi masyarakat.
Penulis : Dessy Phawestrina
Editor : Tiara Rosivanengtyas
Dokumentasi : Kristian S. Widagdo, Gunanto
Rilis : Jumat, 30 Oktober 2026