GUNUNGKIDUL — Upaya mewujudkan lanjut usia (lansia) yang sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat (SMART) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus diperkuat. Salah satunya dengan peluncuran Sekolah Lansia Standar Satu (S1) Bina Keluarga Lansia (BKL) Seger Buger di Padukuhan Temanggung, Kalurahan Jetis, Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, Selasa (20/10/2026). Peluncuran ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas hidup lansia sekaligus memperkuat peran keluarga, kader, pemerintah, dan masyarakat dalam mendukung proses penuaan yang sehat dan bermakna.
Program Sekolah Lansia S1 BKL Seger Buger merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Perwakilan BKKBN DIY, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Indonesia Ramah Lansia (IRL), serta pemerintah setempat dan masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi penyelenggaraan pendidikan lansia yang berkelanjutan dan dapat dikembangkan di wilayah lain.
Dalam sambutan peluncuran, Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Rohina, M.Si., menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengoptimalkan potensi penduduk lansia di tengah meningkatnya usia harapan hidup.
“Meningkatnya jumlah penduduk lansia harus kita jawab dengan kesiapan, bukan sekadar kepedulian. Kita perlu membangun lingkungan yang memungkinkan lansia tetap sehat, aktif, dan berdaya, sekaligus memberi mereka kesempatan untuk terus belajar dan berkembang,” tekannya.
Pentingnya program ini juga sejalan dengan dinamika demografi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk lansia Indonesia pada 2025 mencapai 17,78 persen. DIY tercatat sebagai provinsi dengan persentase penduduk lansia tertinggi di Indonesia. Bahkan, jumlah lansia diperkirakan mencapai seperlima dari total penduduk pada 2045.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Lansia tidak hanya membutuhkan perhatian dan perlindungan, tetapi juga kesempatan untuk terus belajar, menjaga kesehatan, mengembangkan potensi, serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
“Usia yang bertambah tidak seharusnya membatasi kesempatan seseorang untuk belajar, bersosialisasi, dan berkontribusi. Melalui Sekolah Lansia, kita ingin membuka ruang agar para lansia tetap memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai minat dan potensinya,” pesan Rohina.
Sebelum peluncuran, para kader BKL dari Kapanewon Saptosari, Semanu, Paliyan, Tanjungsari, dan Panggang telah mengikuti pelatihan serta pembekalan selama dua hari. Materi pembekalan mencakup peran kader sebagai fasilitator dalam kegiatan Sekolah Lansia dan pemahaman mengenai penyelenggaraan Sekolah Lansia yang ideal.
Pelatihan tersebut terlaksana berkat kerja sama Perwakilan BKKBN DIY dengan FKKMK UGM dan Indonesia Ramah Lansia. Keberadaan kader yang terlatih diharapkan dapat membantu kegiatan Sekolah Lansia agar berjalan secara terarah dan berkelanjutan. Ke depan, model kolaborasi ini diharapkan dapat direplikasi di BKL lainnya dengan menyesuaikan kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah.
Agar program tidak berhenti pada seremoni peluncuran, dukungan pemerintah kapanewon dan kalurahan menjadi faktor penting. Rohina mengharapkan agar penyelenggaraan Sekolah Lansia dimasukkan dalam usulan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), sehingga pada tahun berikutnya dapat memperoleh dukungan pendanaan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Kalurahan (APBKal). Masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa lansia merupakan bagian penting dari pembangunan. Mereka memiliki pengalaman, pengetahuan, dan potensi yang tetap dapat dikembangkan apabila lingkungannya mendukung.
Mari bersama wujudkan Lansia SMART! Pemerintah, keluarga, kader, komunitas, dan masyarakat diharapkan terus memperkuat kolaborasi agar para lansia dapat menjalani masa tua dengan sehat, aman, mandiri, dan bermartabat. Dukung keberlanjutan Sekolah Lansia di setiap wilayah dan jadikan kepedulian terhadap lansia sebagai gerakan bersama menuju masyarakat yang inklusif dan ramah lansia.
Penulis : Dessy Phawestrina
Editor : Ratna Anita Sari
Dokumentasi : Dinda Kurnia Sari
Rilis : Selasa, 20 Oktober 2026