YOGYAKARTA — Delegasi tingkat tinggi United Nations Population Fund (UNFPA) didampingi Direktorat Bina Akses Pelayanan Keluarga Berencana Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) melakukan kunjungan lapangan resmi ke Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) serta Gudang Alat dan Obat Kontrasepsi (Alokon) Provinsi, Rabu (14/10/2026).
Kunjungan dipimpin langsung oleh Asisten Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Deputy Executive Director (DED) UNFPA, Andrew Saberton, didampingi Regional Director a.i. Asia-Pasifik, Aleksandar (Sasha) Bodiroza, SRH Programme Specialist, Sandeep Nanwani, serta jajaran terkait. Kedatangan delegasi disambut hangat oleh Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN DIY, Rohina, M.Si., bersama Direktur Bina Akses Pelayanan KB, dr. Fajar Firdawati, M.K.M.
Agenda ini bertujuan melihat secara langsung praktik baik program Keluarga Berencana (KB) di DIY serta dukungan teknis UNFPA kepada Kemendukbangga/BKKBN dalam manajemen rantai pasok kontrasepsi. Fokus peninjauan mencakup tata kelola rantai pasok alokon, penerapan standar persediaan gudang berbasis First Expired, First Out (FEFO), optimalisasi SIRIKA, hingga skema distribusi dinamis last-mile yang meningkatkan efisiensi anggaran (value for money) dan menjamin ketersediaan seluruh metode kontrasepsi bagi klien. SIRIKA sendiri merupakan Sistem Informasi Rantai Pasok Alokon yang pengembangannya disupport penuh oleh UNFPA. Dalam peninjauan di Gudang Alokon, rombongan delegasi menyaksikan demonstrasi langsung aplikasi SIRIKA yang menggambarkan alur pencatatan transaksi stok secara real-time serta peringatan dini kedaluwarsa maupun kekosongan stok (stock-out).
DIY dipilih sebagai pusat pembelajaran (learning site) karena memiliki keunggulan dan karakteristik yang unik dalam program KB. DIY memiliki capaian indikator KB yang menonjol secara nasional. Total Fertility Rate (TFR) DIY merupakan yang terendah di Indonesia yakni 1,82 pada 2025 (nasional 2,12) serta proporsi penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) sebesar 50,2% (nasional ±28%). Selain itu, Indeks Kualitas Pelayanan KB (IKP) DIY meraih peringkat ke-2 nasional (71,4) dan Method Information Index (MII) menduduki peringkat pertama nasional (69,5).
Di sisi lain, kunjungan ini juga mendiskusikan fenomena dinamika unmet need (kebutuhan ber-KB yang belum terpenuhi) di DIY yang naik menjadi 17,8% berdasarkan Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025 (PK-25). Peningkatan ini didominasi oleh pasangan usia subur (PUS) usia 40 tahun ke atas yang ingin membatasi kelahiran namun mengalami putus pakai (drop-out). Sehingga PUS, ibu pascapersalinan, pasangan muda, kelompok rentan (disabilitas, pekerja migran/pendatang, keluarga miskin) menjadi prioritas sasaran.
Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN DIY, Rohina, M.Si., menjelaskan langkah strategis BKKBN DIY dalam merespons tantangan tersebut serta penguatan tata kelola distribusi alokon di lapangan.
“Hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025 menunjukkan kebutuhan ber-KB yang belum terpenuhi di DIY naik menjadi 17,8%, di mana dugaan terbesar kami adalah angka putus pakai pada pasangan yang sudah tidak ingin menambah anak. Namun, melalui serangkaian pelayanan KB serentak sepanjang tahun 2026, capaian KB pascapersalinan berhasil meningkat dari 40,66% di 2025 menjadi 52,7% hingga Agustus 2026. Untuk menjamin ketahanan pasokan, kami terus memperkuat integrasi data pelayanan SIGA dan data rantai pasok SIRIKA. Saat ini 82,18% faskes di DIY telah terdaftar di SIRIKA, dan kami memastikan ketersediaan alokon aman melalui distribusi dinamis antarwilayah, sekaligus merangkul Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) yang melayani keluarga miskin,” papar Rohina.
Sinergi antara Kemendukbangga/BKKBN dan UNFPA ini diharapkan dapat memperkuat efisiensi anggaran pengadaan alokon nasional serta memastikan seluruh lapisan masyarakat—termasuk kelompok paling tertinggal—mendapatkan akses layanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas dan berbasis hak. Melalui peninjauan lapangan ini, UNFPA dan BKKBN berharap dapat terus mempererat kerja sama strategis dalam memperkuat rantai pasok alokon nasional, mendukung pencapaian target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), serta memastikan tidak ada seorang pun yang terlewat (no one leave behind) dalam mengakses layanan Keluarga Berencana yang berkualitas.
Penulis : Dessy Phawestrina
Editor : M. Zaitun Fathurachman
Dokumentasi : Tiara Rosivanengtyas, Kristian S. Widagdo
Rilis : Rabu, 14 Oktober 2026