GANDENG UGM DAN INDONESIA RAMAH LANSIA, BKKBN DIY JAWAB TANTANGAN AGEING POPULATION MELALUI TOT FASILITATOR SEKOLAH LANSIA DI GUNUNGKIDUL

GUNUNGKIDUL — Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menegaskan posisinya sebagai wilayah dengan tingkat harapan hidup tertinggi di Indonesia. Namun, tingginya angka lansia bukan sekadar angka statistik, melainkan tantangan besar untuk menghadirkan kualitas hidup yang bermartabat. Menjawab tantangan tersebut, Perwakilan BKKBN DIY bergerak cepat mencetak kader-kader pilihan menjadi fasilitator melalui Training of Trainers (ToT) Fasilitator Sekolah Lansia.  

Berlangsung di Kantor Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, pada 22–23 September 2026, pelatihan intensif ini melibatkan 32 peserta dari lima kapanewon yang telah memiliki Sekolah Lansia dan akan dilaunching pada Oktober 2026, meliputi Saptosari, Panggang, Paliyan, Tanjungsari, dan Semanu. Langkah kolaboratif ini menggandeng jajaran elit akademisi dan praktisi, mulai dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Indonesia Ramah Lansia (IRL), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMKP2KB) Gunungkidul, hingga Bank Indonesia.  

Melalui ToT ini, para kader Bina Keluarga Lansia (BKL) dan Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) digembleng untuk mentransformasi cara pandang masyarakat terhadap usia lanjut. Bukan lagi figur pasif yang bergantung pada orang lain, lansia didorong menjadi sosok SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif, dan Bermartabat) melalui penguatan Tujuh Dimensi Lansia Tangguh.  

Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Rohina, M.Si., menegaskan bahwa ledakan jumlah lansia hendaknya tidak disikapi sebagai beban melainkan sebagai aset bangsa.  

“Lansia bukan beban! Ledakan jumlah penduduk usia lanjut di DIY adalah bonus jika kita mampu mencetak lansia yang tangguh, sehat, dan tetap berdaya. Kita tidak ingin lansia sekadar panjang umur, tapi harus bahagia, produktif, dan berdaya saing!” tegas Rohina dalam pembukaan acara.  

Berdasarkan data BPS tahun 2025, proporsi lansia di Indonesia menyentuh angka 17,78 persen, di mana DIY memegang rekor persentase lansia tertinggi nasional. Sementara itu, usia harapan hidup di bumi Handayani mencapai 75,64 tahun, dengan perempuan berada di angka 77,19 tahun dan laki-laki 73,48 tahun. Merespons fakta tersebut, Kemendukbangga/BKKBN meluncurkan Program Prioritas Lansia Berdaya (SIDAYA). Perwakilan BKKBN DIY mengimplementasikan dengan menjadikannya sebagai gerakan masif yang diawali dari penguatan garda terdepan di lapangan, yakni para kader BKL.  

“Garda terdepan gerakan ini ada di tangan para kader dan penyuluh di lapangan! Data yang valid dan pendampingan yang hangat dari kader BKL adalah kunci utama agar program SIDAYA tepat sasaran dan berdampak nyata,” ujar Rohina menekankan vitalnya peran kader BKL dan PKB/PLKB.  

Inisiasi penyelenggaraan ToT ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kegiatan kelompok BKL dalam mewujudkan Lansia Tangguh, pada sekolah lansia yang telah berjalan serta meningkatkan pemahaman kader BKL tentang konsep SMART dalam lingkup 7 Dimensi Lansia Tangguh (spiritual, fisik, emosional, intelektual, sosial, vokasional dan lingkungan). Di samping itu juga meningkatkan kompetensi Kader BKL untuk menjadi fasilitator/narasumber dalam pelaksanaan Sekolah Lansia dan memfasilitasi keberlanjutan pelaksanaan program Sekolah Lansia. Dengan demikian diharapkan kegiatan Sekolah Lansia dapat terus berjalan serta memantik dibentuknya Sekolah Lansia di wilayah lain.

Selama dua hari, para kader tidak hanya dibekali teori, tetapi juga langsung mempraktikkan dalam sesi simulasi fasilitasi. Materi yang disajikan sangat komprehensif, mencakup pengelolaan stres, gizi seimbang, tidur berkualitas, keamanan lingkungan rumah, hingga aktivitas seni-budaya serta rekreasi. Peserta juga dilatih cara menyampaikan materi yang interaktif agar suasana belajar di Sekolah Lansia terasa menyenangkan dan tidak membosankan.  

Ke depan, Perwakilan BKKBN DIY berkomitmen memperluas kemitraan strategis ini ke seluruh penjuru DIY. Sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, sektor swasta, dan komunitas lokal diharapkan mampu menciptakan ekosistem ramah lansia yang berkelanjutan.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat mulai dari kampus, komunitas, hingga sektor swasta untuk bergandengan tangan dalam mewujudkan lansia tangguh yang sehat, merasa aman dan mampu berpartisipasi dalam kegiatan sesuai dengan minat dan potensinya. Mari kita wujudkan DIY yang tidak hanya ramah bagi anak muda, tetapi juga menjadi tempat terbaik dan paling membahagiakan bagi para lansia!” pungkas Rohina.

Penulis                 : Dessy Phawestrina

Editor                   : Ratna Anita Sari

Dokumentasi    : Tiara Rosivanengtyas

Rilis                       : Selasa, 22 September 2026

Related posts