SSK TAK BOLEH SEKADAR ADA: DARI SEKOLAH MASA DEPAN INDONESIA DIPERTARUHKAN

YOGYAKARTA — Generasi emas tidak lahir hanya dari ruang kelas yang penuh buku. Ia tumbuh dari cara anak muda memahami dirinya, keluarganya, lingkungannya, hingga perubahan besar yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Di titik itulah Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) mendapat pekerjaan rumah yang jauh lebih besar daripada sekadar menyandang predikat atau memenuhi administrasi. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan “Fasilitasi dan Pembinaan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) Tahun 2026” yang digelar secara hybrid oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Daerah istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (17/9).

Motivasi dan arahan disampaikan oleh Budyawati, S.Sos., M.Sc yang mewakili Direktur Kerjasama Pendidikan Kependudukan. Kegiatan diikuti peserta dari instansi pemerintah tingkat provinsi maupun kabupaten/kota diantaranya DP3AP2, Dikpora, Kemenag, dan Balai Dikmen. Ratusan peserta lainnya yang merupakan Kepala Sekolah, Guru, dan Pengelola SSK se-DIY mengikuti kegiatan secara daring. Sementara Fika Ristanti, S.Pd., M.Pd, Ketua SSK SMA N 2 Wates Kulon Progo menyampaikan materi Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) dan Modul Ajar/RPP Kependudukan serta berbagi Praktik Baik.
Kepala Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN DIY, Rohina, M.Si, menegaskan bahwa sekolah memiliki posisi strategis dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan dan tantangan kependudukan.

Pendidikan kependudukan tidak cukup hanya dipahami sebagai pengetahuan tentang jumlah dan struktur penduduk, tetapi perlu menjadi bagian dari cara berpikir dan perilaku generasi muda,” tegas Rohina.

Menurutnya, pendidikan kependudukan harus menyentuh hal-hal yang dekat dengan kehidupan peserta didik, bagaimana merencanakan kehidupan, membangun keluarga, menjaga kesehatan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus mengambil bagian dalam pembangunan. SSK didorong tidak berhenti sebagai label di lingkungan satuan pendidikan. Isu kependudukan harus masuk ke dalam pembelajaran, modul ajar, kegiatan sekolah, hingga pembentukan karakter peserta didik. Di sinilah peran pengelola dan unsur pendukung SSK menjadi penting. Kapasitas mereka perlu terus diperkuat agar program tidak berhenti di atas kertas, tetapi dapat benar-benar terasa dalam keseharian sekolah.
Rohina menyebut fasilitasi dan pembinaan menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman, memperkuat kapasitas pengelola, bertukar pengalaman, sekaligus menemukan solusi dari tantangan nyata yang dihadapi sekolah di lapangan. Sekolah yang sudah memiliki pengalaman dan inovasi diharapkan tidak menyimpan praktik baiknya sendiri. Pengalaman tersebut perlu ditularkan agar sekolah lain dapat belajar dan mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Dengan cara itu, pendidikan kependudukan diharapkan bergerak dari program milik segelintir sekolah menjadi gerakan bersama untuk membangun kesadaran kependudukan sejak dini.

Tantangannya semakin relevan ketika Indonesia tengah menyiapkan generasi yang akan menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kualitas generasi muda hari ini akan ikut menentukan kualitas pembangunan pada masa mendatang. Membangun kesadaran kependudukan sejak bangku sekolah merupakan sebuah investasi yang sangat penting. Pekerjaan berikutnya bukan menggelar lebih banyak pertemuan, melainkan memastikan setiap pertemuan melahirkan tindak lanjut.
Sekolah perlu berani mengubah pengetahuan menjadi aksi dan pengelola SSK perlu memperkuat inovasi.Guru perlu menghidupkan isu kependudukan dalam pembelajaran dan seluruh pemangku kepentingan perlu membangun kolaborasi yang tidak putus setelah kegiatan selesai. Saatnya SSK bergerak dari sekadar “ada” menjadi benar-benar “berdaya”. Dari administrasi menjadi aksi, dari sekolah menjadi gerakan. Dari generasi hari ini, kita siapkan manusia yang mampu menentukan masa depan Indonesia.
Rohina berharap kegiatan fasilitasi dan pembinaan tidak berhenti pada forum hari ini, tetapi menghasilkan komitmen, tindak lanjut, dan praktik nyata di masing-masing satuan pendidikan.

Mari hidupkan SSK, dan jadikan sekolah sebagai ruang tumbuh bagi generasi yang sadar, peduli, dan siap menghadapi masa depan,” ajaknya.

Pada akhirnya, penguatan SSK bukan sekadar memastikan program berjalan, tetapi memastikan kesadaran kependudukan benar-benar tumbuh dalam diri generasi muda. Karena itu, setiap sekolah perlu menjadikan praktik baik, kolaborasi, dan inovasi sebagai bagian nyata dari kehidupan sekolah. Langkah kecil yang dimulai dari sekolah hari ini akan menjadi investasi besar bagi kualitas generasi dan pembangunan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Penulis : Dessy Phawestrina
Editor : Anjania Rayi Saputri
Dokumentasi : Tiara Rosivanengtyas
Rilis : Kamis, 17 September 2026

Related posts