TAMASYA di KERABAT Seri 13: Bersama Ciptakan Ruang Aman bagi Anak, Mitigasi Lindungi Generasi

Yogyakarta – Kekerasan pada anak usia dini tidak hanya melukai korban dan keluarga, namun luka juga dirasakan oleh seluruh pihak. Dalam upaya memperkuat perlindungan anak usia dini dari berbagai bentuk kekerasan, Kemendukbangga/BKKBN konsisten memberikan edukasi bagi orangtua, kader, pengasuh dan berbagai stakeholders, salah satunya melalui webinar Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) di Kelas Orangtua Hebat (KERABAT) yang rutin diselenggarakan seminggu sekali. Webinar dilaksanakan oleh Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Balita dan Anak berkolaborasi dengan Perwakilan BKKBN Provinsi.

Kamis, 7 Mei 2026 Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta berkesempatan menggelar TAMASYA di KERABAT Seri 13 dengan tema “Pencegahan Kekerasan pada Anak Usia Dini”. Tema ini merespon kasus yang sedang hangat yaitu kekerasan pada anak yang terjadi di salah satu daycare di Yogyakarta. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting dan kanal YouTube resmi BKKBN DIY, serta diikuti oleh sekitar 25.000 peserta dari berbagai unsur, mulai dari orangtua, kader, tenaga pendidik, pemerintah daerah, hingga pemerhati anak di seluruh Indonesia.

Sambutan disampaikan oleh Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN yang menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak. Dalam arahannya disampaikan bahwa perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga membutuhkan kepedulian dan keterlibatan aktif masyarakat, sekolah, serta lingkungan sekitar. “Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih sayang dan bebas kekerasan akan memiliki fondasi yang kuat untuk berkembang menjadi generasi yang sehat, tangguh, dan berkarakter,” ujar Isyana.

Materi pertama disampaikan oleh Sylvi Dewajani, Ketua KPAID Kota Yogyakarta dengan topik “Tumbuh Kembang Anak Nir Kekerasan”. Dalam paparannya, Sylvi menjelaskan bahwa kekerasan terhadap anak, baik fisik, verbal, maupun emosional, dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, pola pengasuhan positif dan komunikasi yang hangat dalam keluarga menjadi kunci utama dalam menciptakan rasa aman bagi anak. Selain itu, masyarakat juga diajak untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan pada anak dan tidak ragu melakukan upaya perlindungan serta pelaporan apabila menemukan kasus di lingkungan sekitar.

Devi Riana Sari, Psikolog Klinis UPT PPA Kota Yogyakarta sebagai narasumber berikutnya membawakan materi “Penanganan dan Terapi: Korban Kekerasan pada Anak Usia Dini dan Keluarga”. Devi menyoroti pentingnya penanganan yang tepat dan pendampingan psikologis bagi anak korban kekerasan agar trauma yang dialami tidak berlanjut hingga dewasa. Tidak hanya anak, keluarga juga memerlukan dukungan emosional dan edukasi agar mampu menjadi ruang pemulihan yang aman dan suportif. Pendekatan yang penuh empati, penerimaan, serta akses layanan profesional menjadi bagian penting dalam proses pemulihan korban.

Peserta menunjukkan antusiasme dengan pertanyaan yang diajukan pada sesi diskusi yang dimoderatori oleh Mustikaningtyas, Ketua Tim Kerja Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga Perwakilan BKKBN DIY. Melalui TAMASYA di KERABAT, Kemendukbangga/BKKBN berharap semakin banyak orangtua dan masyarakat yang memahami pentingnya menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan bebas kekerasan bagi anak usia dini. Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan aksi nyata dari semua pihak, setiap individu dapat menjadi bagian dari upaya menyelamatkan generasi masa depan. Mari jadikan setiap rumah, setiap daycare, dan setiap lingkungan sebagai ruang aman bagi anak, ruang yang penuh kasih sayang, bebas dari kekerasan, dan mendukung tumbuh kembang optimal.

Penulis                 : Dessy Phawestrina

Editor                   : Tiara Rosivanengtyas

Dokumentasi    : Christin Aprilya Adam, Gunanto

Rilis                       : Kamis, 7 Mei 2026

Post Terkait