Yogyakarta – Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) yang saat ini menjadi program prioritas di Kemendukbangga/BKKBN salah satunya diimplementasikan melalui Kelas Orangtua Hebat (Kerabat) dengan tagline “Tamasya di Kerabat”. Saat ini sasaran Kerabat diperluas dengan mengajak ayah/suami dengan istri hamil atau memiliki baduta serta pengasuh dan pengelola Taman Penitipan Anak (TPA) untuk meningkatkan kualitas pengasuhan tumbuh kembang anak. Tamasya memberikan layanan pengasuhan yang terintegrasi, membantu orangtua yang bekerja agar tetap produktif sambil memastikan anak-anak mendapat perhatian, perlindungan dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang. Materi yang diulas dalam Kerabat mengacu pada 5 Nurturing Care Framework dari World Health Organization (WHO) yang meliputi: Good Health, Adequate Nutrition, Responsive Caregiving, Safety and Security, dan Opportunities for Early Learning.
Sejak tahun 2024 Perwakilan BKKBN DIY telah menginisiasi Kerabat secara rutin setiap bulan. Kerabat edisi khusus DIY tahun 2026 dilaksanakan perdana pada Jumat, 13 Februari 2025 di Gedhong Pracimasana kompleks Kepatihan Pemerintah Daerah DIY dan bekerjasama dengan TPA Among Putra. Mengangkat tema berbasis kearifan lokal “Ngemong Anak, Nandur Karakter: Orangtua Yogyakarta Lawan Stunting” Tamasya di Kerabat edisi khusus DIY ini dilaksanakan secara hybrid. Tema ini sangat relevan dengan upaya membangun generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan berkarakter. “Ngemong Anak” berarti merawat anak dengan penuh kasih sayang, perhatian dan tanggungjawab. “Nandur Karakter” berarti menanamkan nilai-nilai kebaikan sejak dini sebagai bekal kehidupan anak di masa depan.
Drs. Totok Sudarto, M.Pd, narasumber ahli yang dihadirkan dari Dewan Pendidikan DIY menyampaikan bahwa topik tersebut selaras dengan Visi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu “Hamemayu Hayuning Bawana” yang berarti cita-cita luhur untuk mewujudkan tata nilai masyarakat DIY berdasarkan nilai budaya, yaitu manusia yang selalu mengutamakan keselarasan, keserasian, keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan dan dengan sesama manusia, serta dengan alam dalam melaksanakan hidup dan kehidupannya. Ketua Tim Kerja Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Dr. Mustikaningtyas, S.Psi., M.P.H dalam penguatannya menyampaikan bahwa orangtua tidak hanya dituntut untuk memberikan contoh perilaku yang positif, tetapi juga bertanggung jawab dalam membimbing anak agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial tempat ia tumbuh dan berkembang sehingga proses pembentukan karakter dan kemampuan adaptasi anak menjadi bagian penting dari tugas dan peran orang tua.

Dalam proses tumbuh dan kembang anak di Yogyakarta yang sarat akan nilai dan norma budaya, bukan hanya peran orang tua yang menjadi kunci utama, namun juga peran lingkungan dalam membentuk karakter anak. Dengan pengetahuan yang memadai, orangtua dapat memberikan kasih sayang, dukungan, dan lingkungan yang aman sehingga anak dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal. Perlu dipahami bahwa memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, pendidik, dan keluarga.
Oleh karena itu, orang tua perlu berperan sebagai penunjuk jalan, sementara pengasuh dan lingkungan sekitar berfungsi sebagai penjaga yang memberikan pendampingan, pendidikan, dan pengasuhan secara selaras dan serasi. Sinergi tersebut diharapkan mampu mewujudkan keseimbangan dalam proses pengasuhan, sehingga nilai-nilai luhur budaya Yogyakarta dapat terjaga, diinternalisasi, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Penulis : Dessy Phawestrina
Editor : Tim Humas Perwakilan BKKBN DIY
Dokumentasi : Christin Aprilya Adam, Tiara Rosivanengtyas
Rilis : Jumat, 13 Februari 2026
Waktu : Pkl 13.30 WIB