MENUJU ZERO NEW STUNTING, BKKBN DIY PERKUAT PEMBERDAYAAN KELUARGA MELALUI INOVASI SAKARI

BANTUL – Upaya memutus mata rantai stunting membutuhkan lebih dari sekadar edukasi. Keluarga harus memiliki pengetahuan, keterampilan, sekaligus akses terhadap pangan bergizi yang dapat dipenuhi secara mandiri. Berangkat dari semangat tersebut, Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama para mitra menggelar Ekspose Kegiatan SAKARI (Solusi dan Aksi Keluarga Anti Stunting) serta Pelatihan Alih Teknologi dan Informasi Pengolahan Hasil Perikanan di Balai Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, Jumat (6/11/2026).

Mengusung inovasi edukasi gizi dan pemberdayaan masyarakat, SAKARI menghadirkan pendekatan konkret dalam pencegahan stunting melalui budidaya ikan lele dalam galon bagi Keluarga Risiko Stunting (KRS). Program ini tidak berhenti pada penyediaan bibit dan pemeliharaan ikan, tetapi dirancang untuk menumbuhkan kemandirian keluarga dalam memenuhi kebutuhan protein hewani yang terjangkau dan berkelanjutan.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di DIY mencapai 17,4 persen, masih berada di bawah angka nasional sebesar 19,8 persen. Kendati demikian, capaian tersebut bukan alasan untuk berpuas diri. Ketimpangan antarwilayah dan potensi munculnya kasus baru tetap menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan ikhtiar kolektif.

Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Rohina, M.Si., menegaskan bahwa stunting bukan semata-mata persoalan tinggi badan anak, melainkan menyangkut kualitas tumbuh kembang, kesehatan, kecerdasan, hingga produktivitas generasi mendatang.

“Pencegahan stunting tidak dapat dilakukan secara parsial. Upaya ini harus dimulai dari keluarga melalui pemenuhan gizi yang baik, pola asuh yang tepat, perilaku hidup sehat, serta pendampingan berkelanjutan, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan,” tegasnya.

Menurutnya, nilai strategis SAKARI tidak hanya terletak pada keberhasilan budidaya ikan lele, tetapi juga pada kemampuannya memantik perubahan perilaku dan membangun daya lenting keluarga. Harapannya, kegiatan tidak berhenti ketika ikan dipanen, melainkan bertransformasi menjadi kebiasaan keluarga dalam menyediakan dan mengonsumsi pangan bergizi.

Aspek keberlanjutan itulah yang diperkuat melalui pelatihan alih teknologi dan informasi pengolahan hasil perikanan. Peserta dibekali pengetahuan manfaat ikan, praktik fillet, serta pengolahan produk berbahan baku lele agar hasil budidaya memiliki nilai guna lebih luas. Ikan tidak sekadar menjadi sumber protein, tetapi dapat diolah menjadi hidangan yang variatif, aman, bergizi, dan aplikatif untuk menu keluarga maupun makanan pendamping ASI (MPASI).

SAKARI sendiri telah diimplementasikan sejak Juli 2026 di lima lokasi percontohan, yakni Kalurahan Panggungharjo (Bantul), Kalurahan Janten (Kulon Progo), Kelurahan Pringgokusuman (Kota Yogyakarta), Kalurahan Sendangagung (Sleman), dan Kalurahan Bleberan (Gunungkidul). Ekspose kali ini menjadi momentum evaluasi sekaligus penguatan tindak lanjut dari praktik pemberdayaan yang telah berjalan.

Kegiatan tersebut melibatkan 55 peserta, terdiri atas keluarga sasaran, Tim Pendamping Keluarga, kader, perangkat kalurahan, pemangku kepentingan, serta unsur generasi muda. Keterlibatan Duta Genre dan Forum Genre DIY juga menjadi elemen penting agar kegiatan lebih berdampak. Remaja didorong tampil sebagai agen perubahan yang menyebarluaskan literasi gizi, pencegahan anemia, kesehatan reproduksi, dan kesadaran pencegahan stunting melalui jejaring sebaya maupun media sosial.

Program ini digagas Duta Genre bersama Forum Genre DIY dan Perwakilan BKKBN DIY, dengan dukungan Dinas PMKKPS DIY, Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Foodbank of Indonesia (FOI), serta Universitas Respati Yogyakarta. Sinergi lintas sektor tersebut menjadi modal penting agar pemberdayaan keluarga tidak terputus sebagai kegiatan sesaat. SAKARI membawa pesan bahwa ketahanan gizi harus tumbuh dari rumah, diperkuat komunitas, dan dikawal bersama. Keluarga, kader, pemerintah kalurahan, serta seluruh elemen masyarakat harus mengambil peran aktif dalam memastikan setiap anak memperoleh asupan gizi yang memadai sejak awal kehidupannya.

Saatnya bergerak dari edukasi menuju aksi. Mari manfaatkan potensi pangan lokal, hidupkan kemandirian keluarga, dan jadikan setiap rumah sebagai benteng pertama pencegahan stunting. Melalui kolaborasi yang konsisten, target Zero New Stunting di DIY bukan sekadar cita-cita, melainkan tujuan bersama yang harus diwujudkan demi generasi sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.

Penulis             : Dessy Phawestrina
Editor               : A. Utomo Budi Santoso
Dokumentasi   : Tiara Rosivanengtyas
Rilis                  : Jumat, 6 November 2026

Related posts